PENGURUS Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo, menggelar puncak peringatan Hari Santri Nasional 2021, Senin (25/10/2021) malam di kantor PCNU setempat, Jl. Raya Lumajang, Desa Warujinggo, Kecamatan Leces.
Acara dihadiri jajaran pengurus syuriah dan tanfidziyah, badan otonom, lembaga, serta Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) di wilayah PCNU Kabupaten Probolinggo.
Acara berlangsung sederhana, namun meriah. Lengurus PCNU, banom, lembaga, dan MWCNU membawa tumpeng masing-masing sebagai wujud kebersamaan.
Makna Hari Santri Nasional
Ketua PCNU, Kiai Abdul Hamid mengatakan, hal itu dilakukan karena ingin menumbuhkan rasa memiliki akan organisasi NU, yang didirikan oleh Ulama.
Menurut figur asal Kecamatan Tongas ini, hari santri merupakan anugerah besar bagi santri dan kalangan pesantren.
Seandainya tidak karena pandemi, PCNU ingin memperingatinya dengan lebih gebyar. Namun karena kondisi pandemi, tentu NU harus menopang dan mendukung pemerintah dalam penerapan prokes demi memotong mata rantai penyebaran Covid-19.
Sebagai penerus perjuangan dakwah Nabi Muhammad SAW, NU tergerak untuk mengambil uswahnya, terpatri kokoh di tengah kehidupan kita sehari-hari.
"Tentu tidak dapat kita lepas dari para pendahulu seperti ulama yang dengan tegas dinyatakan sebagai penerus para nabi. Maka sudah seyogyanya meneladani akhlak mulianya," kata Kiai Hamid.
Terkait dengan adanya peringatan hari santri, lanjut Kiai Hamid, NU sangat bersyukur, sekalipun dilaksanakan dalam keterbatasan. Dengan mengacu pada protokol kesehatan tetap berjalan baik dan meriah.
PCNU sebagai induk organisasi yang membawahi lembaga dan badan otonom terus mensupport dan memberikan dukungan atas terselenggaranya kegiatan yang digelar. Baik kegiatan lomba membuat karya twibbonize, pidato, paduan suara dan lainnya. Dan berharap untuk peringatan hari santri di tahun mendatang lebih meriah lagi.
Dalam kesempatan itu, Kiai Hamid mengajak hadirin untuk tidak mengandalkan ilmu, karena ukurannya adalah akhlakul karimah.
"NU sebagai Jam'iyah merupakan organisasi yang mendahulukan akhlak sekaligus terus membudayakan musyawarah dalam setiap membuat satu keputusan," ujarnya.
Ketua PCNU juga menceritakan sejarah berdirinya jam'iyah NU. Berawal dari adanya tasbih dan tongkat dari KH. Kholil Bangkalan, yang diamanahkan kepada KH. As'ad Syamsul Arifin untuk disampaikan kepada Hadratus Syaikh KH. Moh. Hasyim Asy'ari. Sebagai isyarat dan restu untuk mendirikan NU.
Baik KH As'ad maupun KH. Hasyim Asy'ari merupakan Santri Hadratus Syaikh KH. Moh. Holil Bangkalan.
"Intinya tetap mendahulukan akhlak. Bagaimana seharusnya sebagai santri, telah dicontohkan dalam cerita tersebut di atas," terang Kiai Hamid.
Hal-hal terkait kebijakan, PCNU akan terus berkoordinasi dengan PWNU dan PBNU serta tetap merujuk pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan Pedoman Organisasi dan Administrasi (POA).
Spirit Resolusi Jihad
Sementara itu, Rois PCNU Kabupaten Probolinggo, KH. Muharror Aziz mengurai sejarah kemerdekaan Indonesia. Utamanya berkaitan dengan Resolusi Jihad KH. Hasyim As'ari yang menumbuhkan semangat juang santri melawan penjajah.
Dengan kobaran semangat juang, terjadilah aksi heroik pada 10 November 1945 di Surabaya, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.
"Indonesia memiliki aset jutaan santri yang siap mengamankan dan menpertahankan NU dan NKRI," kata Kiai Muharror.
Apa filosofi dan hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa sejarah tersebut?
"Semua bisa kita raih dan peroleh, modal utamanya adalah persatuan dan kesatuan itu sendiri. Kekuatan yang sebenarnya adalah pegangan yang kokoh dan lurus berlandaskan pada tali agama Allah secara tegak lurus serta tetap setia mengikuti jejak Rasulullah SAW," terang Kiai Muharror.
Mereka, lanjutnya, tegak lurus. Di manapun tidak pernah condong ke kanan dan ke kiri. "Itulah pengertian santri secara syirah perjalanan Islam. Islam ramah bukan Islam yang marah," tandasnya.
Malam puncak peringatan Hari Santri Nasional 2021 oleh PCNU Kabupaten Probolinggo, dimeriahkan dengan pembacaan sholawat nabi, menyanyikan Indonesia Raya, Ya Lal Wathan dan Mars Hari Santri
Kemudian penyerahan hadiah pemenang lomba, penyerahan bantuan uang pembinaan marbot masjid se-Kecamatan Leces dari BAZNAS Kabupaten Probolinggo, santunan penghargaan untuk pengurus MWCNU tersepuh, dan santunan bagi petugas kebersihan kantor. (Ansori)