Berikut wawancara Reporter (Rep.) islamnu.id dengan Ketua Aswaja NU Center PCNU Kab. Probolinggo, Ustadz Teguh M. Zainul Hasan, S.Ag, M.Pd.I tentang Fullday School yang sedang ramai dibincangkan.
Rep. : Soal Permendiknas No 37 tahun 2017 yang menjadi pro kontra belakangan menurut Ustadz gimana?
Teguh: Biasa lah, namanya juga demokrasi. Semua komponen berhak mengemukakan pandangannya. Tentu, di sisi lain juga harus difahami, tidak ada pihak yang boleh memaksakan kehendak.
Rep. : Maksudnya?
Teguh: Berbeda pendapat itu boleh. Yang tidak boleh adalah menghujat dan berujar kasar penuh kebencian pada yang berpendapat lain.
Rep. : NU keras sekali menolak FDS, sedang Muhammadiyah mendukung. Menurut Ustadz?
Teguh: Dalam hal hari raya NU dan Muhammadiyah sering beda. Biasa aja itu khan?
Rep. : Tapi ini menterinya khan kader Muhammadiyah?
Teguh: Menteri itu pembantu Presiden, bukan pembantu NU atau Muhammadiyah. Jangan benturkan dua organisasi keagamaan yang merupakan representasi umat Islam Indonesia, hanya karena persoalan kebijakan seperti ini. Ada kepentingan keumatan lain yang terkorbankan. Yang justeru lebih besar dan penting.
Rep.: Jadi seharusnya?
Teguh: Yang memprotes Permendikbud dan yang mendukungnya harus tetap fokus ke pesoalan, jangan melebar dengan tidak jelas.
Rep. : Pandangan ustadz tentang FDS ini?
Teguh: Sebagai komponen NU, sikap saya adalah sikap NU itu sendiri. Titik.
Rep.: Alasan penolakan itu menurut Ustadz?
Teguh: Pertama, terkait internal kegiatan sekolah, kurikulum yang kita pakai sekarang adalah Kurikulum 2013. Muatan materinya dirancang untuk 6 hari seminggu. Kalau sekolah dibuat 5 hari dengan tambahan dua jam perhari, durasinya tetap sama seperti yang 6 hari. Terus kegiatan khusus pendidikan karakternya yang dimaksudkan Permen itu mau diselipkan di mana? Permen ini bertabrakan dengan kurikulum itu sendiri. Ini bentuk perubahan parsial yang terkesan dipaksakan. Kedua, kalau sekolah dipaksa menyelenggarakan sendiri pembelajaran keagamaan di siang hari, serentak pada seluruh siswanya, pasti ada persoalan ketenagaan. Ketiga, ini sudah banyak disuarakan, TPQ, Madin dan pendidikan komunitas lainnya, juga Bimbel pasti mati karena sistem ini. Belum lagi masalah-masaah teknis lain yang mengikutinya.
Rep. : Contohnya?
Teguh: Makan siang siswa, ini masalah tersendiri. Kalau bayar bulanan, terasa mahal, kalau bawa dari pagi, merepotkan, basi atau sudah tidak enak, kalau diantar orangtua siang hari, merepotkan juga. Ini satu contoh kecil.
Rep. : Tapi bukankah sekolah NU dari dulu juga ada yang menerapkan fullday school?
Teguh: Ya, tapi jangan disamakan. Fullday school yang ada selama ini, termasuk di lingkungan NU adalah sekolah yang memberikan menu pembelajaran tambahan. Sabtu mereka juga masuk. Ada beberapa tipe sebenarnya, pertama sekolah di Pondok Pesantren, siswa memang bermukim di asrama. Jadi tidak ada masalah. Kedua, tidak berasrama, sabtu tetap masuk dan fullday-nya memang untuk menu tambahan. Jelasnya, yang ada itu, extra learning with extra time, yang diregulasikan ini, extra learning without extra time. Hanya dengan perubahan hari. Beda. Polanya beda, perencanaannya juga beda.
Rep. : Bukankah perubahan hari itu dimaksudkan memberi waktu kebersamaan dengan orangtua lebuh lama?
Teguh: Berapa persen sih orang tua yang kerjanya sabtu libur? sampai 15%-kah?
Saya melihat, dari manfaat yang dimaksudkan, ada "harga" yang terlalu mahal yang harus dibayar.
Rep. : Terus, tanpa FDS, pola pendidikan karakter di sekolah bagaimana?
Teguh: Jangan anggap pendidikan karakter itu tidak ada, sebelum wacana dan kebijakan 5 hari sekolah. Pembelajaran berkarakter telah ditekankan sejak lama. Itu saja diintensifkan, tenaga pendidik dilatih dan diberi pengalaman aplikatif untuk menerapkannya. Kedua, kerjasama sekolah dengan orangtua, lingkungan dan sebagainya, perlu ditingkatkan. Kalau semua pihak peduli, hasilnya akan lebih baik. Pendidikan karakter itu faktor utamanya adalah uswah, keteladanan. Dalam ilmu pendidikan dikenal istilah hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi. Yaitu kebiasaan dan nilai yang ditanamkan terus menerus di lingkungan sekolah. Ini yang perlu terus disemai, semua pihak harus menyadari dan menjadi bagian didalamnya. Jadi bukan soal hari masuk, melainkan lebih pada kualitas tata nilai di lingkungan sekolah. (Tm).