Ngalap Berkah Dari Peringatan Haul Masyayikh dan Hari Lahir PPNJ #Harlah69NurulJadid
Ngalap Berkah Dari Peringatan Haul Masyayikh dan Hari Lahir PPNJ

PROBOLINGGO (IslamNu) 69 tahun yang lalu Pondok Pesantren Besar di Probolinggo Jawa Timur didirikan oleh KH. Zaini Mun’im asal Galis Pamekasan Madura setelah mendapatkan restu dan perintah dari KH Syamsul Arifin, ayah KH. As’ad Syamsul Arifin, Sukorejo-Situbondo. (15/4/2018).

Dari perjalanannya hingga sekarang Pesantren yang diberi nama Nurul Jadid (Cahaya Baru) tersebut tumbuh menjadi pesantren besar dengan sarana prasarana dan lembaga pendidikan yang lengkap mulai dari PAUD Anak Shaleh-TK Bina Anaprasa hingga Ma’had Aly dan Perguruan Tinggi yang beberapa waktu lalu tepatnya (29/10/2017) Menristekdikti Prof Dr H Mohammad Nasir, Ph,D, meresmikannya sebagai Universitas Nurul Jadid (UNUJA) merger dari tiga tiga perguruan tinggi sebelumnya; IAI Nurul Jadid, STT Nurul Jadid dan STIKES Nurul Jadid. Pesan penting saat itu, “Pihaknya  bertugas mengawal agar kampus mencetak generasi yang baik untuk menopang daya saing bangsa”.

Pesantren ini telah mengalami beberapa kali perubahan pucuk pimpinan; KH. Zaini Mun’im dari sejak awal berdirinya dari tahun 1948-1976, tongkas estafet dilanjutkan Putera pertamanya KH. Muhammad Hasyim Zaini dari tahun 1976-1984. Berikutnya dilanjutnya putera keduanya KH. Abdul Wahid Zaini dari tahun 1984-2000 dan kemudian dari tahun 2000-sekarang pucuk pimpinan tertinggi diasuh KH. Moh. Zuhri Zaini sosok Kyai wara’ yang sering mewarnai rubrik pemberitaan ONLine.

Prinsip Dasar berdirinya Pondok Pesantren Nurul Jadid sebagaimana pesan Al-Maghfurlah KH. Zaini Mun'im, "Tujuan mendirikan Pondok Pesantren Nurul Jadid ini tidak hanya ingin mencetak kiai, tapi juga insan yang beriman dan punya komitmen tinggi terhadap perjuangan, di manapun mereka berada dan sebagai apa pun." Yang secara prinsip terumuskan dalam Trilogi Santri (Memperhatikan kewajiban fardlu ‘ain, Mawas diri dengan meninggalkan dosa-dosa besar, Berbudi luhur pada Allah dan makhluk), dan Panca Kesadaran Santri (Kesadaran beragama, Kesadaran berilmu, Kesadaran berorganisasi, Kesadaran bermasyarakat, Kesadaran berbangsa dan bernegara).

Acara puncak dilaksanakan malam seninnya dengan menghadirkan tokoh Kharismatik NU Habib Muhammad Lutfi Bin Ali Bin Yahya, Shohibul Majelis Kanzus Sholawat Pekalongan Jawa Tengah dan merupakan salah satu tokoh ulama yang kini menjadi Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN). dan KH. Ahmad Muwafiq Sleman Yohyakarta. Mantan aktivis pergerakan IAIN Jogjakarta sempat menjadi Sekjend Mahasiswa Islam se-Asia Tenggara dan mantan Asisten pribadinya Presiden keempat Indonesia KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). (Mp).